Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2024

Tiranimu Takkan Ku Bawa Lari

 Tak apa kau mengikat tangku agar aku tak dapat menciptakan mauku, tak apa kau membungkam mulutku agar aku tidak melawan padamu, tapi terima kasih sudah membiarkan kakiku berlari. Setidaknya aku masih bisa melangkah kemana ku mau. Bagaimanapun kau mengurungku, semesta selalu membiarkan setiap langkah ini berlari. Biarkan hanya kakiku yang kau bolehkan bicara, biarkan hanya kakiku yang kau bolehkan bergerak. Aku tidak bisa melawan dengan kakiku, aku hanya punya separuh ragaku. Membebaskannya berkelana sudah cukup bagiku. Aku tidak melawan, aku hanya ingin berlari mengejar angin, menyapa mentari dan mendaki bintang. Sudahkah cukup untuk mulutku diam dan tanganku kelu? Jangan juga kau curi langkahku. Aku hanya bisa berjalan. Bandung, Masih berdasarkan foto dimana aku sebagai perannya dan kawanku fotografernya   26 December 2024

Belenggu Hitam Menyeruak Pahit

 Apa yang kau istimewakan ketika terlahir sebagai perempuan? Rupawan? Jelita? Berlian? Atau malah sebaliknya? Tiada yang istimewa karena lahirmu ialah belenggu hidupmu, menikam paradigmamu, memangsa setiap helaian bajumu. Kamu katanya tiada bisa, tiada kuat, dan kamu adalah lemahnya semesta. Lahirmu tak semulus kulitmu, tanganmu tak sekuat tulangmu, bahkan ucapanmu hanyalah angin dingin yang mengurung mereka di dalam selimut. Sialan keindahan yang tercipta! Ia hanya semata buaian nafsu yang terus menjerat, mendorongmu dalam jurang kegelapan.  Persetan dengan tirakat! Yan dimau hanyalah keganasan bercumbu, beradu rayu dan bersorak resah. Kamu, perempuan, wanita, dan gadis. Nona manis lebih dari madu, jangankan hidupmu, nafasmu, dan nyawamu. Kedipan matamu adalah istimewanya semesta. Tak peduli sudah sekasar apa kulitmu, cahaya Dunia ada padamu. Rusuk Adam yang bernyawa ialah dewi surga. Ibu bagi nyanyian alam, peluk bagi dinginnya langit dan penyejuk bagi panasnya tanah. Kamu a...