Postingan

Menampilkan postingan dengan label Short story

SANG UDARA: DIA SEMPAT KEMBALI

Dua tahun setelah akhirnya aku lalui dengan penuh lika-liku remajaku. Ku selesaikan apa yang akhirnya menjadi belenggu, ku gariskan apa yang akhirnya menjadi titik temu, dan ku simpan apa yang akhirnya menjadi sebuah tanya. Jika kau mengerti saat itu, aku berada pada dusta yang bahkan orang percaya. Tak bisa ku tutupi lagi bahwa akhirnya ikhlasku kemarin hanyalah belaka. Di hari saat aku memperingati kelahiranku yang akhirnya beranjak 17, deringmu menjadi alarm yang bahkan tak pernah ku atur. Katamu saat itu dalam sebuah pesan singkat “Hai selamat ulang tahun, semoga panjang umur dan sehat selalu. Jika pesan ini sampai padamu, tolong balas.” Hanya ucapan klise, sebuah basa-basi, dan hari itu aku seperti menemukan lagi napas yang tercekat.             Aku yang saat itu menjelma bagaikan kupu-kupu tak bergairah akhirnya kembali mengepakkan sayapnya. Tak ada lagi dusta yang ku sembunyikan. Aku senang, teramat senang. Pesan singkat dari...

INTERAKSI SANG LAUT: PERTEMUAN PERTAMA

INTERAKSI SANG LAUT: PERTEMUAN PERTAMA PART 1     Jika ada seseorang yang langkahnya terhenti karena memandangi mu, itu aku.   Hari dimulai   Tidak. Bukan itu maksudnya. Alkisah suatu pagi yang dingin ya tidak begitu dingin, langitnya sedikit kelabu hingga dapat diasumsikan pasti akan turun hujan. Begitu ia melangkah dengan tarikan nafasnya yang memburu. Memasuki gerbang yang akan menjadi kisahnya. Ia cemas dan khawatir akan apa yang akan dihadapinya. Seseorang itu adalah diriku,  ya saat itu aku cemas melebihi apapun. Asing semuanya asing. Berharap ada seseorang yang memanggil namaku lalu melambaikan tangan dan memecahkan keributan dalam batinku. Gerbang itu dikatakan neraka atau surgapun tidak. Karena aku tak pernah tahu, tapi langkah akhirnya terus menuntun ku hingga sampai pada ujungnya.     Petaka pemula      Sebuah petaka yang tak pernah ku duga, tak ada dalam skenario yang ku buat, bahkan tak pernah ku bayangkan. Rasanya aku menga...
UDARA YANG HILANG             Aku di sini, menunggumu dalam sepi, bersama riakan air yang kuat, dan tiupan angin yang lemah, aku di sini, dalam angan, untuk berjumpa denganmu memang sulit. Bergantung pada langkah kaki ke mana aku harus singgah. Di sini saat aku menunggumu.             Bukannya berkata, aku cukup lelah, bukannya berkata, kau egois. Tak ada jejak kakimu di sini, di sana, di manapun, aku mencari, tapi aku diam. Di mana jiwa dan ragamu sekarang?             Aku diam, diam, diam dan akhirnya aku beranjak, mencoba menghapus bayangan denganmu, memusnahkan segala angan bersamamu, membakar hingga hangus rasa rindu. Katamu kau takan pergi bahkan hilang, tapi, itulah janji manis pria labil, kalau tak mau katakan saja jangan pergi.             Kau udara yang selalu ada, tapi kau sekarang hilang, biarpun aku tak mati saat tahu kau hilang dan pergi. Tapi hati tak im...

SANG DARAT dan SANG UDARA

SANG DARAT DAN SANG UDARA        Darat adalah tanah yang kupijakkan sekarang. Udara adalah kebutuhan yang tak pernah berhenti hingga aku tak bernyawa lagi. Dua tempat yang tidak terpisah jauh, takkan bisa terpisahkan. Dua tempat yang selalu bersama di belahan bumi manapun aku berada.        Dua orang serdadu, berbeda akademi, namun memberikan cerita yang sama, mengisi masa sekolahku dengan penuh kasih. Dua orang serdadu, yang pernah mewarnai hariku, memberikan aku banyak kebingungan. Namun mengajaranku untuk menjadi wanita tangguh.        Sekarang, aku sedang duduk di atas lantai dingin tanpa tikar di kamarku. Berhadapan dengan laptop berwarna hitam abu yang aku letakkan di kasurku. Dan aku memulai untuk bercerita tentang SANG DARAT dan SANG UDARA yang pernah mengisi masa sekolahku, ketika aku duduk di bangku SMA.        16 Juli  Pertama kalinya, aku menginjakan kaki di SMA, entah apa yang ada da...